Waspada, 7 Gejala Bayi Keracunan ASI Basi

Waspada, 7 Gejala Bayi Keracunan ASI Basi

January, 30 2020 | Regina | BREASTFEEDING

Gerakan Dukung ASI Eksklusif yang digalakkan Pemerintah memang telah sukses mendorong para ibu di Indonesia untuk memberikan ASI Eksklusif pada si Kecil hingga enam bulan dan dilanjutkan sampai dua tahun. Selain menyusui secara langsung, ASI juga bisa diberikan dengan cara memerahnya terlebih dulu dan menyimpannya dalam bentuk ASIP. 

ASIP yang disimpan tidak tepat dan makanan yang Bunda konsumsi sangat mungkin menyebabkan ASI jadi basi. Untuk mengetahui ASI basi atau tidak, Bunda bisa mulai mengecek tiga ciri ASI seperti rasa, fisik, dan bau. Rasanya yang masam, baunya yang tengik, dan ciri fisik seperti banyaknya gumpalan adalah tanda umum mengetahui ASI basi atau tidak

ASI basi jika dikonsumsi tentunya akan membuat bayi keracunan. Dilansir dari berbagai sumber, ada tujuh gejala yang menandakan bayi keracunan ASI basi. Yuk, Bunda Asifit, kita simak ulasannya! 

  1. Urine berwarna gelap

Bayi keracunan ASI bisa dilihat dari warna urinenya. Seperti halnya orang dewasa, ketika warna urine menjadi gelap, ini menjadi penanda kalau bayi tidak mendapat cairan yang cukup serta zat gizi esensial yang dapat disuplai ASI.

Warna urine yang tidak jernih dan berbau pesing juga bisa menjadi indikasi adanya masalah pencernaan pada bayi. 

  1. Warna kotoran berbeda

Selain warna urine, warna kotoran bayi juga menjadi indikator bayi mengalami keracunan ASI basi. Umumnya, bayi akan mengeluarkan kotoran berwarna kekuningan dan lembek, namun jika berubah warna menjadi hijau terang dan tekstur berbusa, ini menandakan kalau bayi mengalami kekurangan kalori dari ASI. 

  1. Bayi sering bersendawa

Mengetahui ASI basi atau tidak yang terlanjur dikonsumsi adalah dengan melihat apakah bayi sering bersendawa atau buang air? Jika iya, maka Bunda sebaiknya curiga dengan kualitas ASI yang diberikan. 

  1. Adanya pembengkakan tubuh

Salah satu ciri bayi mengalami keracunan ASI ketika tubuh bayi mengalami pembengkakan di area wajah, tangan, perut, dan kaki. Jika Bunda menemukan benjolan yang tak wajar pada tubuh bayi, sebaiknya segera bawa ke dokter untuk mengetahui ASI basi atau tidak yang sudah dikonsumsi si Kecil. 

  1. Tidak naik berat badan

Bayi idealnya mengalami penambahan berat badan sekitar 0.5-1 kg setiap bulan sampai enam bulan pertama ASI eksklusif. Jika bayi gagal naik berat  atau kurang dari standar sangat mungkin kualitas ASI yang dikonsumsi bayi kurang. 

  1. Sering menangis dan mengantuk

Gejala lain untuk mengetahui ASI basi atau tidak yang dikonsumsi bayi dengan melihat intensitas bayi menangis. Umumnya, bayi akan bahagia ketika diberikan ASI, namun apabila bayi justru malah rewel, ini menjadi penanda kondisi tubuhnya yang tidak enak karena nutrisi dan zat gizi yang kurang. 

Bunda juga patut berhati-hati ketika bayi tampak lesu dan mudah mengantuk sepanjang waktu. Rata-rata bayi yang masih baru lahir akan tidur sebanyak 17-18 jam sehari dengan masing-masing masa tidur sekitar 3-4 jam. Jika berlebih, bisa jadi ini penanda bahwa bayi tidak toleran pada ASI karena kualitasnya yang kurang baik. 

  1. Reaksi alergi 

Bayi yang mengalami keracunan ASI juga bisa dilihat dari reaksi alergi yang ditimbulkan usai menyusui. Karena sumber nutrisi utama ASI adalah makanan yang dikonsumsi, maka dari itu bayi bisa mengalami alergi hingga keracunan.

Baiknya, Bunda selalu mengimbangi makanan yang dikonsumsi dengan sayuran yang bisa meningkatkan kualitas ASI itu sendiri, seperti daun katuk yang secara turun temurun sudah dikenal mampu memperlancar ASI. 

Asifit hadir dalam bentuk praktis ekstrak daun katuk alami untuk memperlancar ASI. Komposisi Asifit yang juga mengandung vitamin B kompleks (B1, B2, B6 dan B12) mampu menjaga kebugaran Bunda selama menyusui hingga ASI eksklusif bisa tercapai. 

Bunda hanya perlu mengonsumsi Asifit 1-2 kaplet sebanyak 3 kali sehari saja. Jangan lupa untuk selalu membawa Asifit ke manapun Bunda pergi. Selamat mengASIhi, ya, Bunda!